![]() |
| Dr Sri Gusti, ST, MT, dosen Jurusan Teknik Sipil PNUP, saat berbagi inspirasi literasi di SDN Tanggul Patompo 2 Makassar. (Dok. Topterkini/Handover) |
Topterkini.com, MAKASSAR — Dosen Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP), Dr Sri Gusty, ST, MT, mendorong siswa SD Negeri Tanggul Patompo 2 Makassar untuk membiasakan diri menulis melalui metode journaling atau catatan harian.
Dorongan tersebut disampaikan Sri Gusty saat menjadi narasumber dalam kegiatan Inspirasi Literasi bertema “Maju dengan Membaca Buku” di SDN Tanggul Patompo 2 Makassar, Jumat, 11 September 2026.
Kegiatan yang diikuti siswa kelas 5 dan 6 tersebut merupakan bagian dari penguatan Gerakan Literasi Sekolah sekaligus memperingati Hari Kunjung Perpustakaan dan Bulan Gemar Membaca.
Sri Gusty mengatakan, kebiasaan menulis sejak dini dapat membantu anak menemukan ide dan mengembangkan pengalaman mereka menjadi sebuah karya. Bahkan, ia berharap para siswa sudah memiliki buku sebelum menyelesaikan pendidikan di sekolah dasar.
«“Kalau bisa, sebelum tamat dari sekolah ini, anak-anak sudah punya buku. Bisa itu buku karya sendiri, atau karya bersama teman-teman,” kata Sri Gusty.»
Sebelum memberikan tips menulis, Sri Gusty mengajak siswa untuk lebih rajin mengunjungi perpustakaan. Menurutnya, perpustakaan bukan hanya tempat membaca, tetapi juga ruang untuk menulis, berdiskusi, berkarya, hingga berlatih seni.
Hal tersebut sejalan dengan program inovasi SDN Tanggul Patompo 2 yang disebut Parkir Buku, akronim dari Pembelajaran Kreatif melalui Literasi Membaca, Menulis, Berkarya Bermutu.
Dalam sesi praktik menulis, Sri Gusty memperkenalkan rumus 3, 6, 9 sebagai salah satu cara membangun kebiasaan journaling.
Angka 3 digunakan untuk menentukan tiga target utama yang ingin dilakukan dalam satu hari. Misalnya menghafal perkalian, mengikuti praktik IPAS, dan melaksanakan salat Jumat.
Sementara angka 6 digunakan untuk mencatat enam aktivitas yang akan dilakukan. Kegiatan tersebut dapat berupa pergi ke sekolah, mengikuti kegiatan literasi, mengaji, membantu orang tua, mengerjakan pekerjaan rumah, hingga bermain.
Adapun angka 9 digunakan untuk melakukan evaluasi pada malam hari. Siswa diajak melihat kembali target dan kegiatan yang telah dilakukan sepanjang hari.
“Ini cara membangun disiplin dan pembiasaan,” jelas Sri Gusty.
Ia juga memperkenalkan rumus 3, 2, 1 untuk membantu siswa menemukan ide tulisan. Pertama, siswa menentukan tiga hal yang ingin diketahui. Selanjutnya, memilih dua hal yang paling menarik, hingga akhirnya mengerucut menjadi satu topik utama.
Sebagai contoh, siswa dapat memilih topik tentang hewan peliharaan, literasi, atau kelangkaan gas melon. Informasi mengenai topik tersebut kemudian dapat dicari melalui buku di perpustakaan maupun sumber informasi lainnya.
Menurut Sri Gusty, hasil journaling tidak harus selalu berbentuk catatan harian. Catatan tersebut dapat dikembangkan menjadi cerpen, cerita, buku mini, puisi, maupun karya lainnya.
“Ini merupakan salah satu cara bagaimana menemukan ide,” imbuhnya.
Selain dikenal sebagai akademisi, Sri Gusty juga produktif menulis buku dan merupakan pemilik penerbit Arsy Media.
Kegiatan tersebut turut dihadiri penulis dan pegiat literasi Rusdin Tompo serta sejumlah guru SDN Tanggul Patompo 2 Makassar.
Perpustakaan di Ruang Depan Sekolah
Kepala UPT SPF SDN Tanggul Patompo 2 Makassar, Hj Nahidha Mallapiang, S.Pd., M.Pd., mengatakan penguatan literasi baca tulis penting dilakukan sejak dini. Menurutnya, kebiasaan tersebut dapat menumbuhkan semangat belajar sekaligus membangun kesadaran kritis siswa.
Sekolah saat ini tengah merintis program inovasi Parkir Buku. Salah satu langkah yang disiapkan adalah mengubah ruang guru menjadi perpustakaan sekolah.
Nahidha mengatakan, gagasan tersebut muncul setelah melihat kondisi lingkungan sekolah saat pertama kali mendapat amanah sebagai kepala sekolah pada Juni 2026.
“Sejak pertama kali datang, saya lihat ada area parkir di depan kantor. Langsung saya terpikir untuk bikin perpustakaan di bekas ruang guru. Sementara ruangan guru pindah ke belakang,” ungkapnya.
Menurutnya, perpustakaan sengaja ditempatkan di bagian depan agar lebih mudah diakses siswa.
Dengan keberadaan perpustakaan tersebut, sekolah berharap ruang literasi tidak hanya digunakan untuk membaca, tetapi juga menjadi tempat anak-anak bercerita, menulis, berdiskusi, dan menghasilkan karya.
“Kalau sudah membaca, bisa bercerita, menulis, dan berkarya. Nanti anak-anak didampingi oleh penulis dan penggiat literasi, supaya bisa menghasilkan buku,” pungkas Hj Nahidha Mallapiang.(rt/ril)
