![]() |
| Zahir Juana Ridwan (dua dari kanan, pakai passapu) berbagi tips membuat pantun di SDN Borong, Selasa, 6 Oktober 2026. (Foto: Dok. Topterkini/Handover) |
Topterkini.com, MAKASSAR — Belajar pantun ternyata bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan. Hal itu terlihat ketika Pustakawan Ahli Muda Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusarsip) Provinsi Sulawesi Selatan, Zahir Juana Ridwan, S.Sos., berbagi pengalaman dan tips membuat pantun kepada siswa SD Negeri Borong Makassar.
Kegiatan tersebut berlangsung di Perpustakaan Gerbang Ilmu SD Negeri Borong, Jalan Borong Raya Nomor 8, Kecamatan Manggala, Kota Makassar, Selasa (6/10/2026). Puluhan siswa kelas 4 dan 5 mengikuti kegiatan dengan duduk lesehan sambil menyimak penjelasan Zahir.
Dikenal sebagai pustakawan yang mahir berpantun, Zahir mengawali materinya dengan menjelaskan bahwa pantun memiliki sejarah panjang dalam kebudayaan Melayu.
“Pantun itu penuntun, yang berkembang di semenanjung Melayu atas pengaruh Islam,” kata Zahir.
Ia kemudian mengajak anak-anak mengenali pantun bukan hanya dari bentuk tulisannya, tetapi terutama dari bunyi atau rima pada setiap baris.
Menurut Zahir, kesamaan bunyi pada pantun tidak selalu berarti kesamaan huruf. Dalam pola pantun yang umum, bunyi pada larik pertama berhubungan dengan larik ketiga, sedangkan larik kedua berhubungan dengan larik keempat.
Ia juga menjelaskan ciri dasar pantun. Setiap bait umumnya terdiri atas empat baris atau larik. Dua baris pertama disebut sampiran, sementara dua baris berikutnya merupakan isi atau pesan yang hendak disampaikan.
“Pantun terdiri atas sampiran dan isi. Baris pertama dan kedua adalah sampiran, sedangkan baris ketiga dan keempat adalah isi,” jelasnya.
Zahir juga mengenalkan pola rima silang a-b-a-b yang menjadi salah satu ciri pantun. Namun, ia menyampaikan bahwa dalam bentuk tertentu terdapat pula pola rima lainnya.
Agar suasana belajar tidak terasa kaku, Zahir menyampaikan materi sambil bersenandung. Ia bahkan membuat sejumlah pantun yang mengandung pesan tentang pentingnya membaca buku.
Salah satunya:
Lompat-lompatlah si katak biru
Habis melompat naik ke teratai
Sempatlah sempat membaca buku
Habis membaca ilmu digapai
Siswa kemudian diajak mengikuti lantunan pantun secara bersama-sama. Beberapa siswa bahkan mendapat kesempatan tampil di depan untuk menyenandungkan pantun yang telah mereka buat.
Zahir menjelaskan, pantun tidak sekadar karya sastra yang dimainkan dengan kata-kata. Dalam kehidupan masyarakat, pantun dapat menjadi alat komunikasi sosial, media menyampaikan sindiran secara halus, sarana memberikan nasihat, sekaligus hiburan.
“Pantun juga menjadi bagian penting dalam sejumlah upacara adat dan pernikahan di berbagai daerah,” ujarnya.
Kepala UPT SPF SD Negeri Borong, Andi Etty Cahyani, S.Pd., M.Pd., mengapresiasi kehadiran Zahir yang bersedia berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada para siswa.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian PELITA (Pekan Literasi Anak) yang digelar SD Negeri Borong.
“Penguatan literasi penting dilakukan bagi anak-anak sejak dini agar tumbuh semangat gemar membaca, menulis, dan berkreativitas,” kata Andi Etty.
Ia menilai kehadiran pegiat literasi di sekolah juga semakin relevan karena Oktober merupakan Bulan Bahasa.
“Momennya pas, apalagi bulan Oktober ditetapkan sebagai Bulan Bahasa,” tambahnya.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bentuk kolaborasi dalam memperkuat Gerakan Literasi Sekolah dan program inovasi GEMBIRA (Gerakan Membaca, Bercerita, Menulis, Kriya, Kreasi) yang dikembangkan SD Negeri Borong.
Dengan mengenakan kemeja batik dan passapu, Zahir terus menghidupkan suasana dengan pantun-pantun bernuansa nasihat. Ia mengajak anak-anak memahami bahwa membaca buku bukan sekadar aktivitas di perpustakaan, tetapi jalan untuk memperoleh pengetahuan.
Ia kemudian menyampaikan pantun:
Hari Selasa makanlah jambu
Habis dimakan dapatlah gizinya
Wahai manusia bacalah buku
Habis dibaca raihlah ilmunya
Pesan yang sama juga disampaikan melalui pantun lainnya:
Hari Kamis makanlah bubur
Habis dimakan kenyang rasanya
Bila manusia telah terkubur
Yang tersisa hanyalah ilmu dan amalnya
Di hadapan para siswa, Zahir menegaskan bahwa keberadaan pantun perlu terus dirawat agar tidak terputus dari generasi ke generasi.
“Pantun ini akan terus hidup dan berkembang jika dipelajari. Anak-anak juga perlu belajar sastra, termasuk pantun, sebagai cara merawat karya sastra,” pesannya.
Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan kearifan lokal yang sangat besar. Pantun menjadi salah satu warisan budaya yang perlu dipelajari, dirawat, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Kegiatan pun ditutup dengan pantun:
Telaga kering di samping hutan
Airnya habis suasana sepi
Bila ada izin dari Tuhan
Eloklah nanti kita jumpa lagi.**
