![]() |
| Foto bersama pembicara dan peserta Bincang Buku Historiografi Rakyat: Tanah, Tubuh, dan Ingatan di Alliance Francaise (AF) Makassar, Ahad, 18 Oktober 2026. Foto: Istimewa/handover |
MAKASSAR — Sejarah bukan semata-mata catatan tentang tokoh besar, pergantian kekuasaan, atau peristiwa yang tertulis dalam buku pelajaran. Pengalaman hidup warga biasa, ingatan kolektif, serta kisah tentang tanah, tubuh, dan kebudayaan juga merupakan bagian penting dari sejarah yang perlu didokumentasikan.
Pandangan tersebut mengemuka dalam kegiatan Bincang Buku Historiografi Rakyat: Tanah, Tubuh, dan Ingatan yang berlangsung di Konsulat Kehormatan Prancis dan Alliance Française (AF) Makassar, Jalan Maipa Nomor 2, Kelurahan Losari, Kecamatan Ujung Pandang, Ahad, 18 Oktober 2026.
Ferdhiyadi, yang akrab disapa Ferdhy, dosen Sosiologi Universitas Negeri Makassar (UNM) sekaligus anggota Tim Historiografi Rakyat, menegaskan bahwa pengalaman dan ingatan masyarakat biasa merupakan sumber pengetahuan yang tidak boleh diabaikan dalam penulisan sejarah.
Menurutnya, sejarah yang dipelajari di sekolah dan perguruan tinggi bukanlah satu-satunya bentuk pengetahuan sejarah. Di luar catatan resmi, terdapat pengalaman warga yang menyimpan informasi penting mengenai perubahan sosial, konflik, kebudayaan, dan kehidupan sehari-hari.
Ferdhy sendiri menuliskan pengalamannya bersentuhan dengan Sungai Lebbae di Soppeng. Sungai yang selama beberapa generasi dimanfaatkan masyarakat untuk memenuhi berbagai kebutuhan itu kini menghadapi persoalan pencemaran. Airnya tidak lagi dapat diminum langsung, terutama akibat pencemaran sampah plastik.
Kisah tersebut memperlihatkan bahwa sejarah bukan hanya berkaitan dengan masa lalu, melainkan juga membantu menjelaskan perubahan lingkungan dan kehidupan masyarakat dari waktu ke waktu.
Melawan Dominasi Sejarah Resmi
Bagi Ferdhy, penerbitan buku Historiografi Rakyat: Tanah, Tubuh, dan Ingatan merupakan bagian dari gerakan untuk menghadirkan perspektif alternatif terhadap penyusunan Sejarah Nasional Indonesia (SNI), yang selama ini menjadi salah satu rujukan sejarah resmi.
Ia mengkritik anggapan bahwa sejarah yang difasilitasi negara secara otomatis menjadi satu-satunya versi yang benar. Menurutnya, penulisan sejarah juga perlu dibaca secara kritis karena dapat dipengaruhi kepentingan politik dan kekuasaan.
“Seolah bahwa penulisan sejarah yang difasilitasi negaralah yang benar, yang resmi. Padahal penulisannya sarat dengan kepentingan politik penguasa,” kritik Ferdhy.
Melalui pendekatan history from below atau sejarah dari bawah, Tim Historiografi Rakyat berupaya menempatkan masyarakat sebagai pemilik pengetahuan sekaligus subjek sejarah. Warga tidak semestinya hanya hadir sebagai objek penelitian, melainkan juga sebagai pihak yang memiliki hak untuk menceritakan pengalaman dan menafsirkan perjalanan hidupnya.
Gerakan ini melibatkan para penulis dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara yang mengangkat pengalaman masyarakat serta persoalan sosial dan kebudayaan yang selama ini berpotensi luput dari narasi dominan.
Menggali Sejarah melalui Diskusi dan Pengalaman Lapangan
Rangkaian kegiatan diawali dengan seminar sejarah yang menghadirkan Ita Fatia Nadia dari Ruas, Muslimin AR Effendi dari Universitas Hasanuddin (Unhas), serta Feby Triadi, peneliti Bissu.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan lokakarya yang menghadirkan sejumlah narasumber dari beragam latar belakang, yakni Usman Hamid dari Amnesty International Indonesia, Andi Achdian dari Universitas Nasional (Unas), Dianah Karmilah dari Koalisi Perempuan Indonesia, Muhiddin M. Dahlan dari Radio Buku dan Warungarsip, Abd Karim dari BRIN, serta Subarman Salim dari Gengdekol-PKBM Sulolipu.
Peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan melalui pemaparan narasumber, tetapi juga diajak mengunjungi empat lokasi bersejarah, yakni Goa Cempalagi, Museum La Pawawoi, Penjara Lama, dan Komunitas Bissu.
Kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk memahami sejarah melalui ruang, peninggalan, tradisi, dan pengalaman masyarakat yang masih memiliki hubungan dengan masa lalu.
Bissu dan Panre Bessi Perempuan dalam Catatan Sejarah
Buku Historiografi Rakyat: Tanah, Tubuh, dan Ingatan menghadirkan beragam tulisan yang mengungkap pengalaman kelompok masyarakat yang kerap berada di pinggiran narasi sejarah dominan.
Subarman Salim, misalnya, mengangkat posisi komunitas Bissu di Bone yang semakin tersisih, meskipun komunitas ini sebelumnya memiliki peran penting dalam tradisi dan kebudayaan masyarakat setempat.
Sementara itu, Oma Irama menulis kehidupan panre bessi perempuan di Luwu melalui kisah Santi. Tulisan ini tidak sekadar mendokumentasikan pekerjaan tradisional, tetapi juga membuka ruang pembacaan mengenai persoalan gender dan posisi perempuan dalam praktik kebudayaan.
Kedua kisah tersebut memperlihatkan bahwa sejarah rakyat dapat menjadi jalan untuk memahami perubahan kedudukan sosial, keberlangsungan tradisi, serta pengalaman kelompok yang belum selalu memperoleh tempat memadai dalam penulisan sejarah.
Sofyan Basri, anggota tim sekaligus penulis buku yang juga dosen Program Studi Teknologi Pendidikan UNM dan memiliki pengalaman profesional sebagai jurnalis, menilai historiografi rakyat penting untuk membangun kemandirian pengetahuan.
Menurutnya, berakhirnya penjajahan secara formal setelah Indonesia merdeka tidak serta-merta menghilangkan seluruh warisan cara pandang kolonial.
“Kita masih merasa rendah diri di hadapan peneliti, apalagi peneliti asing. Selama ini, tulisan mereka kita sebut sebagai sumber primer. Padahal mereka curi pengetahuan itu dari pengalaman dan cerita-cerita warga yang dijadikan objek penelitian,” ungkap Sofyan.
Pernyataan tersebut menyoroti pentingnya mengakui masyarakat sebagai sumber pengetahuan yang memiliki kedudukan penting dalam proses penelitian dan penulisan sejarah.
Setiap Orang Adalah Bagian dari Sejarah
Rusdin Tompo, penulis dan penggiat literasi yang diundang sebagai pembahas buku, menekankan bahwa setiap orang sesungguhnya memiliki keterhubungan dengan sejarah. Seseorang dapat menjadi saksi, pelaku, bahkan korban dari peristiwa sejarah.
Menurut Koordinator Satupena Sulawesi Selatan tersebut, bahasa dan pilihan diksi dalam penulisan sejarah tidak pernah sepenuhnya terlepas dari relasi kuasa. Stereotipe, diskriminasi, dan kepentingan tertentu dapat hadir melalui cara seseorang atau kelompok digambarkan dalam sebuah narasi.
“Bahasa dan pilihan diksi yang ditulis dalam sejarah, terkandung relasi kuasa, stereotipe, dan diskriminasi. Itu bukti bahwa kita jadi korban sejarah. Apalagi jika sejarahnya ditulis secara manipulatif, hanya fakta-fakta yang menguntungkan, ditulis sebagai legitimasi,” jelas Rusdin.
Ia mengapresiasi prakarsa Tim Historiografi Rakyat yang mendokumentasikan pengalaman masyarakat biasa. Baginya, pengalaman personal bukan sekadar cerita individual, melainkan dapat menjadi pintu masuk untuk memahami peristiwa sejarah dan praktik kebudayaan yang lebih luas.
Berbagi pengalaman menulis perjalanan hidupnya sejak masa kanak-kanak, ketika menjadi jurnalis, aktivis hak anak, hingga terlibat dalam gerakan literasi, Rusdin mengingatkan pentingnya menjaga kejujuran terhadap fakta.
Penulisan sejarah warga tetap membutuhkan proses riset, termasuk mengonfirmasi ingatan melalui percakapan dengan orang tua, teman, dan informan yang mengetahui peristiwa terkait. Argumentasi juga perlu dibangun secara logis, berdasarkan premis yang terukur, serta mampu menjelaskan hubungan sebab-akibat.
“Saya malah mendorong setiap orang menulis sejarah dirinya, sebagai bentuk penguatan identitas dan penegasan dirinya yang otentik,” imbuhnya.
Membuka Ruang bagi Ingatan yang Terpinggirkan
Kegiatan Bincang Buku ini diselenggarakan melalui kerja sama komunitas Diskusi Buku Bareng dan Alliance Française Makassar. Diskusi mendapat sambutan antusias dari mahasiswa dan penggiat literasi yang datang dari Makassar maupun Kabupaten Gowa.
Muhammad Alif Hasyudi dari komunitas Diskusi Buku Bareng memandu jalannya diskusi sebagai moderator. Komunitas tersebut merupakan bagian dari Komunitas Jalan Bareng. Ketua Diskusi Buku Bareng, Oskar, dan Ketua Komunitas Jalan Bareng, Payyad, turut hadir sepanjang kegiatan.
Melalui pertemuan ini, historiografi rakyat tidak berhenti sebagai proyek penerbitan buku. Ia berkembang menjadi upaya memperluas ruang partisipasi masyarakat dalam memahami dan menuliskan masa lalunya sendiri.
Pengalaman warga tentang sungai yang tercemar, komunitas budaya yang tersisih, perempuan dalam tradisi kerja, hingga ingatan tentang kehidupan sehari-hari menunjukkan bahwa sejarah memiliki banyak wajah.
Ketika pengalaman tersebut didokumentasikan secara kritis dan bertanggung jawab, masyarakat tidak hanya mewariskan cerita kepada generasi berikutnya, tetapi juga membangun pemahaman yang lebih utuh tentang identitas, kebudayaan, dan perubahan sosial.
Dengan demikian, menulis sejarah rakyat merupakan upaya merawat ingatan sekaligus membuka ruang bagi suara-suara yang selama ini kurang terdengar dalam narasi sejarah dominan. Sebab, sejarah bukan hanya milik mereka yang berkuasa atau mereka yang namanya tercatat dalam buku, melainkan juga milik masyarakat yang mengalami, menyaksikan, dan mewariskan kehidupan. (*)
