-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Mahasiswa ITBA Al Gazali Barru Asah Kreativitas Lewat Workshop Lukis di Bantaran Sungai Jeneberang

Selasa, Oktober 20, 2026 | 8:13:00 PM WIB | 0 Views Last Updated 2026-10-20T12:20:33Z

 

Sejumlah mahasiswa peserta Wirkshop Lukis di Ruang Belajar Bantaran, mengaku belum lama suka melukis. Foto: Istimewa


GOWA – Suasana rindang di tepi Sungai Jeneberang menjadi ruang belajar terbuka bagi enam mahasiswa Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni Budaya Ihya Institut Teknologi Bisnis dan Administrasi (ITBA) Al Gazali Barru. Selama tiga hari, 16–18 Oktober 2026, mereka mengikuti workshop lukis di Ruang Belajar Bantaran, Kampung Kaledupaya, Desa Taeng, Kabupaten Gowa.


Kegiatan ini menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa yang sebagian besar berasal dari Jurusan Administrasi Publik. Jika di ruang kuliah mereka terbiasa mempelajari birokrasi, tata kelola pemerintahan, dan pelayanan publik, kali ini mereka ditantang mengeksplorasi kreativitas melalui goresan kuas di atas kanvas.


Workshop tersebut tidak sekadar menjadi ajang belajar teknik melukis. Kegiatan ini juga merupakan bagian dari proses pembinaan dan perekrutan anggota baru UKM Seni Budaya Ihya, sekaligus mempersiapkan karya untuk dipamerkan dalam pentas perdana.


Pembina UKM Seni Budaya Ihya, A. Arifay Yusuf, M.Pd., menjelaskan bahwa nama Ihya memiliki makna hidup dalam bahasa Arab. Nama tersebut terinspirasi dari kitab "Ihya Ulumuddin" karya Imam Al-Gazali.


Menurutnya, semangat yang ingin dibangun melalui UKM ini adalah kehidupan berkesenian yang mengedepankan nilai estetika tanpa meninggalkan nilai etika.


“Berkesenian bukan hanya soal keindahan karya, tetapi juga bagaimana nilai-nilai etika tetap menjadi landasan dalam proses berkarya,” jelas A. Arifay Yusuf.


Ketua UKM Seni Budaya Ihya, Dhani Anugrah, menambahkan bahwa kegiatan seni di lingkungan organisasinya juga memiliki landasan nilai keagamaan. UKM yang berdiri pada 23 September 2013 ini memaknai simbol pada logonya sebagai representasi Rukun Islam dan Rukun Iman.


Identitas tersebut diperkuat dengan penggunaan lima garis merah dan aksara Lontarak. Organisasi ini mengusung moto “Sim­panua Ruang Menakar Diri” sebagai bagian dari identitas berkesenian mereka.


Belajar Seni di Alam Terbuka


Pemilihan Ruang Belajar Bantaran bukan tanpa alasan. Tempat yang dikelola perupa AH Rimba tersebut menawarkan suasana alami yang mendukung proses kreatif. Berbagai pohon buah, seperti rambutan, mangga, jeruk, jambu, dan sukun, tumbuh di kawasan yang berada di tepi Sungai Jeneberang itu.


Lingkungan yang hijau, udara yang sejuk, serta suasana relatif tenang memberikan pengalaman berbeda bagi peserta workshop. Mereka dapat mengamati lingkungan sekitar, mencari inspirasi, kemudian menuangkannya ke dalam lukisan.


A. Arifay Yusuf mengatakan, Ruang Belajar Bantaran dipilih bukan semata-mata karena kondisi alamnya yang nyaman. Ada tujuan lain, yakni mempererat silaturahmi sekaligus membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari perupa berpengalaman.


“Bukan hanya tempat saja yang menjadi tujuan melukis, tetapi juga silaturahim dan belajar langsung kepada seniman lukis yang akrab kami panggil Kak Rimba,” ujarnya.


Ia mengakui bahwa minat dan pengalaman mahasiswa dalam seni lukis masih perlu dikembangkan. Karena itu, kegiatan di luar kampus seperti ini diharapkan mampu menumbuhkan keberanian untuk berkarya sekaligus memperluas wawasan mereka tentang dunia seni rupa.


Selama mengikuti kegiatan, para peserta juga berkemah di lokasi dan memanfaatkan dapur bersama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kebersamaan tersebut menjadi bagian dari proses belajar, membangun kemandirian, dan mempererat hubungan antarpeserta.


Membangun Ekosistem Seni melalui Kolaborasi


Perupa AH Rimba menyambut baik kehadiran mahasiswa ITBA Al Gazali Barru di Ruang Belajar Bantaran. Ia mendorong peserta agar tidak berhenti belajar secara individual, tetapi juga membangun jejaring dengan seniman dan komunitas lain.


Menurutnya, perkembangan seni membutuhkan ruang perjumpaan yang memungkinkan terjadinya pertukaran pengalaman, gagasan, dan keterampilan.


Rimba mengungkapkan bahwa Ruang Belajar Bantaran sebelumnya juga pernah menjadi tempat kegiatan membatik yang melibatkan sejumlah teman seniman. Anak-anak pun pernah diajak menggambar bersama di tempat tersebut.


“Sebelumnya di Ruang Belajar Bantaran ini, beberapa teman membatik. Bahkan anak-anak juga diajak menggambar bersama,” tuturnya.


Bagi Rimba, pertemuan antara mahasiswa, seniman, dan komunitas dapat menjadi langkah untuk memperkuat ekosistem seni yang terbuka dan saling mendukung.


Pendekatan belajar langsung di lapangan juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk memahami bahwa seni tidak hanya berkembang di ruang kelas atau studio. Alam, kehidupan masyarakat, dan interaksi sosial dapat menjadi sumber inspirasi dalam proses penciptaan karya.


Dari Tugas Menggambar Menuju Kecintaan Melukis


Pengalaman mengikuti workshop ini mulai menumbuhkan ketertarikan baru bagi para peserta. Anisah Putri, mahasiswa semester lima Jurusan Administrasi Publik yang akrab disapa Ica, mengaku tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa ia akan menyukai kegiatan melukis dan terus menekuninya.


Hingga saat ini, Ica telah menghasilkan tujuh lukisan. Karya-karya tersebut masih berupa gambar dasar dengan objek flora dan fauna.


“Sejauh ini saya sudah membuat tujuh lukisan. Semuanya masih berupa gambar-gambar dasar, seperti flora dan fauna,” kata Koordinator Seni Rupa UKM Seni Budaya Ihya tersebut.


Pengalaman serupa dirasakan Baiq Nurhidayatullah atau Atul. Mahasiswi berhijab ini mengaku baru mulai menyukai kegiatan menggambar. Sebelumnya, gambar yang dibuatnya lebih banyak berupa hasil pengerjaan tugas.


Bagi Atul, suasana di Ruang Belajar Bantaran memberikan kenyamanan tersendiri untuk berlatih. Ia menikmati kegiatan menggambar di bawah pepohonan dengan udara yang sejuk dan angin yang berembus.


“Saya suka suasana di Ruang Belajar Bantaran ini. Rimbun. Menggambarnya di bawah pohon. Nyaman, dan banyak anginnya,” ungkap Atul sambil terus menggerakkan kuas di atas kanvas.


Menyiapkan Karya untuk Pentas Perdana


Workshop lukis merupakan bagian dari tahapan pembinaan anggota UKM Seni Budaya Ihya. Proses perekrutan anggota baru biasanya dilakukan melalui Workshop Art yang digelar setiap tahun pada masa libur semester ganjil.


Setelah mengikuti kegiatan tersebut, anggota baru memperoleh pembinaan sesuai cabang seni yang diminati melalui divisi masing-masing. Mereka kemudian dipersiapkan untuk menampilkan karya dalam pentas perdana sebagai salah satu syarat pengukuhan keanggotaan.


Dalam workshop di Ruang Belajar Bantaran ini, enam peserta yang terlibat adalah Inna’, Athul, Ica, Lia, Indah, dan Dede’. Mereka didampingi pengurus UKM, yakni Dani selaku Ketua Umum dan Fadil sebagai kru kegiatan.


Pembina dan pendamping yang turut hadir ialah A. Arifay Yusuf, Risal Trimawan, dan Suriani A.


Kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan mahasiswa tidak harus terbatas pada kompetensi akademik sesuai program studi. Melalui seni, mahasiswa Administrasi Publik juga memperoleh ruang untuk melatih kepekaan, kesabaran, kreativitas, dan kemampuan mengekspresikan gagasan.


Dari tepi Sungai Jeneberang, mereka belajar bahwa sebuah karya tidak selalu lahir dari ruang formal. Terkadang, di bawah rindangnya pepohonan dan dalam suasana kebersamaan, tumbuh keberanian untuk mencoba, belajar, dan menemukan kecintaan baru terhadap seni.**


×
Berita Terbaru Update