-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Seni Menangkap Cahaya Pakarena sebagai Pappasang

Rabu, Oktober 07, 2026 | 9:36:00 AM WIB | 0 Views Last Updated 2026-10-07T01:36:36Z
Foto: Istimewa


Oleh Rusdin Tompo 

Penulis adalah Pegiat Literasi, Penikmat Seni, dan Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan


Fotografi adalah profesi, hobi, dan seni bagi Goenawan Monoharto. 


Pada setiap lembar foto ia meletakkan tanggung jawab, kesenangan, dan nilai visual yang tak sekadar dilihat tetapi juga dirasakan getaran dan gregetnya. 


Lewat fotografi, ia wujudkan imajinasi estetisnya, meramu segala ekspresinya, dan mengeksekusi konsep yang semula tersembunyi dalam logika benaknya.


Maka ketika seorang Goenawan Monoharto memotret, sejatinya ia bukan sedang merekam objek, melainkan menghadirkan karya dari galeri pikirannya. 


Itulah mengapa, objek-objeknya—yang secara fisik kita kenali sebagai foto hasil cetakan—merupakan dokumentasi pikiran personal dan, dalam banyak kasus, juga sekaligus merupakan arsip komunal. 


Di situ ada mozaik momen, pancarona kenangan, kreativitas menangkap cahaya, dan komposisi yang tak selalu mesti simetris.


Pengalamannya memotret dengan kamera Asahi Pentax K1000, di awal ia merintis profesi sebagai fotografer di media cetak, era 1970-an, membuatnya paham bagaimana ‘mengakali’ cahaya dengan menggunakan teori diafragma, kecepatan, dan Asa. 


Bukan itu saja, ia juga mesti memahami sensivitas perangkat kamera yang digunakan dengan mengatur cahaya yang masuk ke kamera melalui lensa. 


Seperti kata George Eastman (1854-1932), yang menekankan pentingnya cahaya. Pendiri Kodak itu, merupakan penemu film gulung, yang menyebarluaskan fotografi.


Level Goenawan Monoharto terus meningkat. 


Dalam beberapa kesempatan ngobrol dengannya, ia mendaku bahwa bisa dengan cepat menguasai situasi, saat pemotretan. Intuisinya penaka mata burung hantu yang punya kemampuan mendeteksi gambar dua kali setengah lebih terang dibanding manusia. 


Mungkin kalimat ini dianggap hiperbolis. Namun, yang pasti, ia mahir mengoptimalkan cahaya walau tanpa pengukur cahaya (light meter). 


Bayangkan, kala itu, ia memotret tanpa didukung blitz. Hanya kejelian membaca cahaya yang ia andalkan, meskipun dalam kondisi kurang cahaya. 


Hanya saja, jujur diakui, beberapa pemotretannya gagal, lantaran kekurangan cahaya ataupun over cahaya.


Keterampilan teknis-filosofis itulah yang tengah ia sampaikan lewat PAKARENA: Insight Light. Bukan soal menari dan sosok penarinya yang ia pamerkan, tetapi aura dan spirit kulturalnya. Sumangakna. 


Sebagai fotografer, ia tak bergenit-genit menonjolkan keindahan model, dan tak latah dalam arus perbincangan pentingnya menyelamatkan tradisi. 


Ia punya cara dan rekam jejak yang membuktikan bahwa betapa Pakarena ada dalam retina lensanya, bahkan dalam jiwanya yang sirik na pacce—sebagai Grundnorm, sebagaimana diteorikan Hans Kelsen soal hierarki norma (Stufenbaulehre).


PAKARENA: Insight Light merupakan pameran instalasi foto yang menggabungkan fotografi dan seni instalasi. 


Ia setup suasana kamar gelap (dark room) dengan safe lamp warna merah bukan untuk bernostalgia menghadirkan laboratorium foto era analog. 


Namun, ia hendak mengkonstruksi suasana magis dan kontemplatif dalam proses berkarya, yang tadinya hanya merupakan pengalaman personal dengan segala privilesenya sebagai fotografer. Representasi tari dan penari Pakarena digunakan untuk menjangkau keruangan pesan, bukan sebatas karya foto. 


Alih-alih Pakarena dijadikan objek fisik foto, dalam karya seni instalasi foto ini, malah mewujud cahaya narasi yang sublim.   


Saya menjadi saksi betapa Goenawan Monoharto begitu gigih mengulik, tekun membaca, dan serius menyelisik tarian klasik Pakarena. 


Ia tak berhenti hanya pada pesona gerakannya nan lembut, pada keanggunan penarinya yang penuh adab tata krama membumi, pada makna sakral yang terasa religiositas-spiritualitasna. 


Ia bukan saja tertarik untuk mengabadikan pertunjukannya yang menyiratkan kesopanan, kesetiaan, dan kehidupan perempuan Makassar yang menjaga norma. 


Sesungguhnya, ia menangkap cahaya, jiwa, dan hakikat Pakarena itu sendiri. Ia menangkarnya dengan cahaya dari matahari, dari pendar rembulan, dari terang lampu LED, dari nyala obor kecil (kanjolik), dan dari api mata-batinnya.


Goenawan Monoharto memotret Pakarena, serupa Daeng Pamatte menulis sejarah Kerajaan Gowa-Tallo dengan Lontarak Bilang pada abad ke-16. 


Ada dedikasi, panggilan profesi, dan semangat literasi yang mengingatkan kita untuk mengabadikan dan mengabdikan keahlian kita pada sesuatu yang bermakna. Dari situ ia hendak menegaskan pesan, supaya Pakarena tetap bercahaya sebagai seni agung, sebagai nilai luhur, sebagai pappasang (pesan-pesan atau nasihat).


Mitos Pakarena terkait erat dengan keberadaannya sebagai perangkat kebesaran Tu Manurung, disimbolkan sebagai perempuan yang sangat cantik dan bijaksana (Nurlina Sjahrir, 2014). 


Pakarena yang semula merupakan perangkat milik istana kemudian berkembang menjadi milik Anrong Guru yang penghadirannya disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat pendukungnya (Sumiani, 2004). 


Yudhistira Sukatanya, dalam pengantarnya untuk buku Mengenal Nilai dan Simbol Pakarena (Nurlina Sjahrir, 2023), mengajukan pertanyaan kritis, apakah nilai dan simbol Pakarena masih relevan untuk penguatan jati diri orang Makassar, atau masyarakat Sulawesi Selatan pada umumnya?


Saya kutip saja apa yang ditulis Dr. Nurlina Sjahrir, yang bagai berdialog dalam diskursus akademiknya sebagai Maestro Tari Pakarena. Dalam Refocusing Pakarena, di tahun 2021—yang merupakan kolaborasi dirinya dengan Goenawan Monoharto—dosen Program Studi Seni Tari Fakultas Seni dan Desain (FSD) Universitas Negeri Makassar (UNM) menulis:


“Benarkah ketubuhan dalam Pakarena merefleksikan semangat dari dua karakter pembentuknya (laut-gunung), nampak kokoh mengakar ke tanah, membumi dan terus memberi kehidupan, sekaligus bergelora dengan berbagai macam halangan dan rintangan yang mesti dijinakkan dengan pengalaman.”


Pada paragraf lain, Nurlina Sjahrir menjawabnya sendiri:


“Bagi saya dalam tubuh Pakarena terjadi pertemuan dan sinergitas antara ruang domestik dan ruang publik. 


Inilah yang merupakan bentuk interaksi yang kemudian menghasilkan suatu konsep keseimbangan nan harmonis dalam tubuh Pakarena, sehingga ia menjadi sangat humanis, artistik, eksotis tanpa harus cerewet bercerita dalam setiap geraknya. 


Tubuh Pakarena memiliki pancaran sikap kesabaran, kesetiaan, kejujuran, ketangguhan, keluwesan, sekaligus kedamaian.”


Dari karya yang ditampilkannya, terasa bila Goenawan Monoharto hadir dalam foto-fotonya. 


Identitasnya sebagai fotografer terasa otentitasnya. Ia menyingkap literasi visual tentang Pakarena, dengan memadukan visinya, emosinya, kemampuan teknis, dan jam terbang, bukan cuma menekan tombol klik. 


Fotografi, kata Sir Donald McCullin, pewarta foto asal Britania Raya, adalah sebentuk perasaan, bukan hanya penglihatan.


Rasa itu berupa foto-foto hasil jepretan penari Pakarena dalam hitam putih atau monokromatik yang tanpa bingkai. 


Sehingga ada keluasan pandangan ketika menikmati gambar-gambar puitis itu. Kalaupun foto-foto itu berwarna, ia terasa bagai notasi nada yang ritmis, dan … dramatis. 


Foto-foto dengan sepilihan lokasi pemotretan yang tak kalah ikonik, antara lain: Benteng Somba Opu (Makassar), dan Rammang-Rammang (Maros).


Esensinya ia hendak menjemput limpahan cahaya sebagai berkah. Cahaya yang memantulkan cahaya dari penari Pakarena sebagai medium yang menegaskan karyanya. 


Dalam detak waktu, gendang (ganrang) ditabuh rancak berima katto-katto bambu, puik-puik ditiup serupa melodi, dan dalam hitungan genap, gong (dengkang) dipukul sebagai penguat irama. 


Musik dan musisi pengiring Pakarena yang maskulin tidak tampak dalam foto-foto Goenawan Monoharto. Hanya penari Pakarena dengan selendang dan kipas yang menghadirkan nuansa feminin ada di sana.


Kipas yang terbuat dari daun Lontar itu, bukan hanya berfungsi sebagai pengusir gerah, dan bukan pula hanya menjadi properti dan elemen aksesoris semata. 


Daun Lontar yang punya banyak manfaat bagi kehidupan masyarakat itu, merupakan simbol keagungan atau kemuliaan, sebagaimana Lontarak pada masyarakat Makassar (Andi Jamilah, 2003). Saya menyebut pohon Lontar sebagai pohon kehidupan dan ilmu pengetahuan. 


Sebelum kita mengenal kertas dan buku, serta perangkat digital, lembar-lembar Lontar merupakan wadah untuk mencatat sejarah, karya sastra, silsilah keluarga, ilmu pengetahuan, dan berbagai hal penting lainnya.


Tulisan ini, mau menyampaikan bahwa PAKARENA: Insight Light adalah momen pengingat untuk mengaktualisasikan jiwa Pakarena secara intrinsik dalam kehidupan. 


Nilai-nilai filosofisnya yang kuat, jangan sampai sebatas dinikmati sebagai pajangan pameran yang sifatnya temporer, dalam durasi waktu singkat. Cahaya Pakarena yang mewujud karya seni fotografi ini punya tafsir pesan seluas cakrawala, tergantung sudut pandang Anda.


Dan di situlah pappasang-nya, hadir tidak dalam teks nasihat, tetapi dalam narasi budaya yang terbingkai dalam karya seni fotografi nan apik estetik. (*)

×
Berita Terbaru Update