![]() |
| Aktivitas upacara bendera sebagai cara pendidikan karakter di SD Negeri Tamamaung. Foto: Istimewa |
MAKASSAR – Pembentukan karakter peserta didik tidak selalu harus dilakukan melalui nasihat dan aturan tertulis. UPTD SPF SD Negeri Tamamaung, Makassar, menghadirkan pendekatan kreatif melalui program SAHABATTA (*Sepekan Bersama Hewan Edukatif Tumbuhkan Karakter Tamamaung*), sebuah inovasi pembiasaan sekolah yang menjadikan figur hewan sebagai inspirasi perilaku positif bagi murid.
Melalui program ini, setiap hari sekolah memiliki tema dan aktivitas tersendiri. Karakteristik hewan digunakan sebagai media untuk menanamkan nilai kedisiplinan, gotong royong, kepedulian terhadap lingkungan, kesehatan, religiositas, hingga kebersamaan.
Kepala UPTD SPF SD Negeri Tamamaung, Dr. Sarwinah, M.Pd, menjelaskan bahwa program tersebut dirancang agar nilai-nilai karakter lebih mudah dipahami dan diterapkan oleh murid dalam kehidupan sehari-hari.
“Setiap hari memiliki figur hewan dan menjadi akronim kegiatan harian yang dapat menumbuhkan karakter warga SDN Tamamaung, terkhusus pada murid-murid,” ungkapnya melalui WhatsApp, Sabtu (17/10/2026).
Menurut Sarwinah, pendekatan ini membuat pembelajaran karakter menjadi lebih konkret. Murid tidak sekadar menerima arahan tentang perilaku baik, tetapi juga diajak memahami nilai-nilai tersebut melalui simbol hewan dan aktivitas yang dilakukan secara rutin.
Enam Hari, Enam Inspirasi Karakter
Program SAHABATTA diterapkan melalui enam tema harian yang saling melengkapi. Setiap tema menghubungkan karakteristik hewan dengan pembiasaan positif di lingkungan sekolah.
Pada Senin, murid mengikuti kegiatan **SIPUT**, singkatan dari *Senin Ikut Upacara Tumbuhkan Nasionalisme*. Siput dipilih sebagai simbol konsistensi, yang mengingatkan murid untuk mengikuti upacara dengan tertib sekaligus menumbuhkan semangat nasionalisme.
Hari Selasa menjadi **SEMUT**, yaitu *Selasa Melakukan Literasi, Numerasi, dan Digitalisasi*. Semut yang dikenal rajin dan hidup bergotong royong menjadi inspirasi untuk membangun kebiasaan belajar, meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi, serta mengembangkan pembelajaran berbasis digital.
Selanjutnya, Rabu diisi dengan **RAJAWALI**, kependekan dari *Rabu Aksi Jaga Alam dan Wujudkan Lingkungan Asri*. Tema ini mendorong murid memperluas kepedulian terhadap lingkungan melalui tindakan nyata untuk menjaga kebersihan dan keasrian sekolah.
Pada Kamis, program **KIJANG** atau *Kamis Kerja Bakti dan Jaga Kesehatan serta Kebugaran* mengajak murid membiasakan hidup bersih, sehat, dan aktif. Filosofi kijang yang lincah dan bugar menjadi pengingat pentingnya menjaga kesehatan tubuh serta lingkungan bersama.
Sementara itu, Jumat diisi dengan **JERAPAH**, singkatan dari *Jumat Eratkan Religi, Akhlak, dan Perilaku Harmonis*. Kegiatan ini berorientasi pada penguatan nilai keagamaan, pembentukan akhlak, dan hubungan harmonis antarmurid, antara lain melalui salat duha dan kegiatan Jumat Berbagi.
Adapun Sabtu menjadi **SERIGALA**, yakni *Sabtu Ceria Kegiatan Ekstrakurikuler Aktif*. Filosofi kebersamaan dalam kehidupan kelompok serigala digunakan untuk menumbuhkan kerja sama, solidaritas, dan partisipasi murid dalam kegiatan ekstrakurikuler.
Keenam tema tersebut menjadikan pembiasaan karakter lebih mudah dikenali dan diingat. Sekolah juga memiliki kerangka kegiatan yang terstruktur untuk mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam rutinitas harian.
Inovasi Lama dengan Identitas Baru
Sarwinah mengungkapkan, praktik pembiasaan yang menjadi dasar program tersebut sebenarnya telah berjalan sebelum dirinya menjabat sebagai kepala sekolah. Namun, setelah menerima amanah memimpin SD Negeri Tamamaung sekitar empat bulan lalu, ia memberikan nama dan identitas khusus agar kegiatan tersebut lebih terarah dan mudah dikenali.
Sebelum bertugas di SD Negeri Tamamaung, Sarwinah merupakan Kepala SD Negeri Sudirman 4.
Ia menjelaskan bahwa pengembangan program ini berangkat dari kebutuhan warga sekolah untuk menghadirkan kegiatan pembiasaan yang menyenangkan, terstruktur, mudah diingat, dan dapat dievaluasi keberhasilannya.
Dalam jangka pendek, SAHABATTA diharapkan membuat pembiasaan sekolah berlangsung secara sadar, tertib, dan disiplin. Untuk jangka panjang, program ini diarahkan mendukung visi sekolah dalam membentuk murid yang berkarakter, beriman, berakhlak, sehat, literat, kreatif, mandiri, dan peduli lingkungan.
“Penerapan SAHABATTA dilakukan secara terukur dan menjadi budaya sekolah yang dilakukan secara konsisten,” jelasnya.
Karakter Dibangun Melalui Kolaborasi
Bagi Sarwinah, pendidikan karakter tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada guru. Dukungan keluarga dan lingkungan sosial menjadi bagian penting agar nilai-nilai yang dibiasakan di sekolah juga diterapkan di luar kelas.
Karena itu, SD Negeri Tamamaung terus membangun kolaborasi dengan pemerintah, dinas terkait, orang tua, masyarakat, dunia usaha, komunitas, dan media.
“Kolaborasi dengan berbagai pihak sangat penting karena keberhasilan pembentukan karakter bukan hanya bergantung pada guru, tetapi juga pada dukungan dan keteladanan orang tua di rumah,” ujarnya.
Pelaksanaan SAHABATTA mulai memberikan identitas tersendiri bagi aktivitas harian sekolah. Murid didorong lebih disiplin dan aktif, sementara kepedulian terhadap lingkungan dan kesehatan serta praktik akhlak baik menjadi bagian dari pembiasaan yang terus diperkuat.
Ke depan, Sarwinah berharap SAHABATTA dapat berkembang menjadi ciri khas budaya UPTD SPF SD Negeri Tamamaung. Lebih dari sekadar nama program, inovasi ini diharapkan menjadi sarana menanamkan karakter sejak pendidikan dasar melalui kegiatan sederhana yang dekat dengan kehidupan anak-anak.
Dengan memanfaatkan filosofi hewan sebagai media edukasi, sekolah berupaya menunjukkan bahwa pendidikan karakter dapat dibangun melalui kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten, bersama-sama, dan berkelanjutan. (*)
