![]() |
| Ilustrasi meja belajar tempat menyusun skripsi. (Dok. Topterkini/IA) |
Bagi mahasiswa pada umumnya, menulis skripsi sesingguhnya bukan hanya soal mencari dan memilih judul atau juga menentukan teori. Salah satu bagian yang sering membuat pusing dalam menulis skripsi adalah menyusun latar belakang masalah.
Banyak mahasiswa yang menulis skripsi puluhan halaman, namun setelah dibaca kembali, ternyata inti masalah penelitiannya belum tercantum jelas. Di sisi lain ada pula yang terlalu banyak menulis konsep dan teori, tetapi lupa menjelaskan mengapa persoalan yang diwacanakan penting untuk diteliti.
Latar belakang masalah dalam skripsi, merupakan elemen penting karena merupakan pintu masuk bagi pembaca untuk memahami alasan pentingnya penelitian
Ingatlah sebuah prinsip bahwa jangan mulai menulis skripsi dari masalah, tetapi mulailah dari deskripsi fenomena. Salah satu cara sederhana menyusun latar belakang adalah memulai dari fenomena umum yang berkaitan dengan topik penelitian.
Fenomena tersebut dapat berupa perubahan sosial, konflik sosial, perkembangan teknologi, persoalan pendidikan, kehidupan masyarakat, kebijakan pemerintah, perubahan lingkungan, maupun berbagai realitas sosial lainnya.
Setelah itu, pembahasan secara perlahan diarahkan kepada persoalan yang lebih spesifik. Dengan demikian, pembaca tidak langsung diarahkan ke masalah penelitian, tetapi diajak memahami konteks yang melatarbelakanginya.
Hadirkan Fakta, Bukan Sekadar Pendapat
Latar belakang yang kuat membutuhkan fakta dan data. Mahasiswa dapat menggunakan data statistik, hasil penelitian terdahulu, laporan lembaga resmi, hasil observasi awal, pemberitaan media, maupun dokumen kebijakan yang relevan.
Data tersebut bukan sekadar untuk memperpanjang tulisan. Fungsinya adalah memperkuat argumentasi bahwa persoalan yang dibahas memang benar-benar ada. Ingat, satu data yang relevan sering kali lebih kuat daripada beberapa paragraf yang hanya berisi opini.
Temukan “Masalah” di Balik Fenomena
Setelah menjelaskan fenomena, pertanyaan berikutnya adalah: “apa masalah yang sebenarnya terjadi?” Inilah bagian yang harus mulai dipertegas.
Misalnya, secara ideal ruang publik diharapkan menjadi tempat interaksi sosial yang terbuka dan inklusif. Namun, dalam kenyataannya tidak semua kelompok masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk memanfaatkan ruang tersebut. Di sinilah muncul persoalan yang menarik untuk diteliti.
Cari Kesenjangan atau Gap
Latar belakang akan menjadi lebih kuat ketika mahasiswa mampu menunjukkan kesenjangan (gap). Gap dapat ditemukan melalui beberapa perbandingan:
- kondisi ideal dengan kondisi nyata;
- teori dengan praktik;
- kebijakan dengan pelaksanaan;
- harapan dengan kenyataan;
- penelitian terdahulu dengan persoalan yang belum terjawab.
Sederhananya, tanyakan kepada diri sendiri: “Apa yang seharusnya terjadi, dan apa yang ternyata terjadi?”. Dari pertanyaan sederhana inilah sering kali ditemukan masalah penelitian.
Jelaskan Mengapa Masalah Itu Penting
Jangan berhenti pada kalimat “masalah tersebut menarik untuk diteliti”. Jelaskan mengapa masalah itu penting. Apa dampaknya bagi masyarakat? Siapa yang terdampak? Apa konsekuensinya jika persoalan tersebut tidak dikaji? Mengapa penelitian akademik diperlukan untuk memahami persoalan tersebut?.
Semakin jelas alasan pentingnya penelitian, maka semakin kuat pula latar belakang yang dibangun.
Jangan Lupa Membaca Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu bukan hanya pelengkap daftar pustaka. Ia dapat membantu mahasiswa menemukan posisi penelitiannya sendiri. Dari penelitian terdahulu, mahasiswa dapat mengetahui: Apa yang sudah diteliti? Apa yang sudah ditemukan? Apa yang belum dijelaskan?. Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat menjadi dasar untuk menemukan research gap.
Tunjukkan Keunikan Penelitian
Setelah menemukan gap, jelaskan posisi penelitian yang akan dilakukan.
Misalnya: “Penelitian sebelumnya lebih banyak membahas aspek X, sedangkan penelitian ini memfokuskan perhatian pada aspek Y".
Kalimat seperti ini membantu pembaca memahami bahwa penelitian yang dilakukan bukan sekadar mengulang penelitian sebelumnya.
Dalam bahasa sederhana, mahasiswa perlu menjawab: “Apa yang baru dari penelitian saya?”
Kebaruan tidak selalu berarti menemukan teori baru. Kebaruan dapat berupa objek, lokasi, perspektif, kelompok masyarakat, konteks sosial, metode, maupun cara melihat sebuah persoalan.
Akhiri dengan Fokus Penelitian
Pada bagian akhir latar belakang, pembahasan harus semakin mengerucut. Jika pada awal tulisan pembahasan masih bersifat umum, maka menjelang akhir pembaca sudah harus memahami:
fenomenanya apa, masalahnya apa, gap-nya di mana, dan mengapa penelitian tersebut perlu dilakukan. Dari sinilah kemudian penelitian diarahkan kepada fokus penelitian dan rumusan masalah.
Gunakan Rumus Sederhana
Bagi mahasiswa yang masih bingung, gunakan pola berikut:
Fenomena → Fakta/Data → Masalah → Gap → Dampak → Penelitian Terdahulu → Research Gap → Posisi Penelitian → Objek/Lokasi → Fokus Penelitian
Pola tersebut dapat menjadi “peta jalan” agar penulisan latar belakang tidak melebar ke mana-mana.
Jangan Takut Memulai
Menulis skripsi memang membutuhkan proses. Tidak semua mahasiswa dapat langsung menghasilkan tulisan yang sempurna pada percobaan pertama.
Mulailah dari apa yang diketahui. Kumpulkan fenomena, cari data, baca penelitian terdahulu, kemudian tuliskan masalah yang ditemukan. Setelah itu, lakukan revisi secara bertahap.
Skripsi yang baik bukan selalu lahir dari tulisan pertama yang sempurna, tetapi dari tulisan yang terus diperbaiki.
Jadi, jangan menunggu sampai memiliki kalimat yang sempurna untuk mulai menulis. Mulailah menulis, kemudian sempurnakan melalui membaca, berdiskusi, dan merevisi.
Karena pada akhirnya, tantangan terbesar dalam menyelesaikan skripsi bukan hanya menemukan masalah penelitian, tetapi juga memiliki keberanian untuk mulai menuliskannya.**
