-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Sains Terkini di Balik Navigasi Bintang Pelaut Bugis

Minggu, Agustus 02, 2026 | 7:39:00 PM WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-02T12:22:00Z

 

Foto: Dr. Ahmadin, S.Pd., M.Pd., (kedua dari kiri) dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FIS-H), Universitas Negeri Makassar (UNM) saat memberi materi dalam workshop "Membaca Rasi Bintang: Etnoastronomi Nelayan Kepulauan Spermonde". (Topterkini.com)


PANGKEP, TOPTERKINI.com - Bintang navigasi tradisional berbasis pengamatan langit telah menjadi pilar utama dalam sejarah perkembangan peradaban maritim di Nusantara. Jauh sebelum era kompas, GPS, dan teknologi modern, para pelaut Nusantara khususnya suku Bugis-Makassar telah mengandalkan rasi bintang sebagai kompas alami saat mengarungi lautan luas.


Fungsi utama rasi bintang dalam dunia bahari mencakup penunjuk arah mata angin, penanda pergantian musim, hingga panduan akurat untuk membaca fenomena alam. Topik menarik ini dikupas tuntas dalam Workshop Warisan Budaya Maritim bertajuk "Membaca Rasi Bintang: Etnoastronomi Nelayan Kepulauan Spermonde" yang digelar di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) pada Kamis (30/7/2026).


Workshop tersebut menghadirkan Dr. Ahmadin, S.Pd., M.Pd., seorang pakar sekaligus penulis buku "Pelautkah Orang Selayar?". Dalam pemaparannya, Wakil Dekan Bidang Akademik FIS-H Universitas Negeri Makassar (UNM) ini menggarisbawahi pentingnya etnoastronomi. Bidang kajian ini menjembatani hubungan antara fenomena benda langit dengan kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat lokal.


Menurut Dr. Ahmadin, masyarakat pesisir Sulawesi Selatan telah lama mewarisi kearifan lokal berupa kemampuan membaca tanda-tanda di langit."Mempelajari peradaban lewat rasi bintang tidak hanya mengasah pemahaman astronomi, tetapi juga membuka tabir identitas budaya dan kecerdasan ekologis masyarakat kita," jelas peneliti sosiologi ruang tersebut.


Sistem pengetahuan pelaut tradisional termasuk suku Bugis, Makassar, Bajo, Selayar, dan Mandar sangat kompleks. Mereka mampu mengintegrasikan posisi rasi bintang dengan arah embusan angin, karakteristik arus laut, dan siklus perubahan musim. Modal pengetahuan astronomi budaya inilah yang mengantarkan para pelaut tangguh tersebut mampu melakukan pelayaran jarak jauh. Mereka sukses membangun rute perdagangan antarpulau, bahkan menembus kawasan Asia Tenggara hingga Samudra Hindia.


Melalui materi berjudul "Menatap Langit, Membaca Zaman", Dr. Ahmadin mendesak pentingnya revitalisasi navigasi tradisional di tengah gempuran teknologi modern. Langkah ini dinilai strategis untuk menjaga nilai-nilai luhur bangsa agar tidak punah. Sistem pengetahuan lokal ini juga menurutnya sangat relevan dijadikan materi suplemen pembelajaran di sekolah. Guru mata pelajaran Geografi dan Sejarah memegang peranan krusial sebagai agen pewaris ilmu etnoastronomi kepada generasi muda.


Para peserta workshop yang didominasi oleh guru SMA se-Kabupaten Pangkep terlihat sangat antusias. Mereka aktif mendiskusikan implementasi astronomi budaya ke dalam kurikulum pendidikan, riset, dan upaya pemajuan kebudayaan maritim.


Dr. Ahmadin berharap kajian ini tidak berhenti di ruang akademik semata, melainkan menjadi pemantik kesadaran kolektif untuk menjaga identitas maritim Sulawesi Selatan. Menjaga warisan ini berarti merawat sumber inspirasi bagi pembangunan sektor maritim Indonesia di masa depan.


Acara ditutup dengan apresiasi dari Khumairah Mansyur, S.Pd., M.Pd., selaku ketua tim program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan. Ia menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak dan berharap program ini memberikan dampak nyata bagi pelestarian sejarah maritim Indonesia.(am/lip)


×
Berita Terbaru Update