![]() |
| Murid-murid SDN Borong memperhatikan detail-detail lukisan Ishakim pada Pameran Seni Rupa di Galeri De La Macca, Jumat, 2 Oktober 2026. (Dok. Topterkini/Handover) |
MAKASSAR — Pameran seni rupa tidak hanya menjadi ruang untuk menikmati karya seni, tetapi juga menjadi tempat belajar bagi murid-murid SD Negeri Borong, Kecamatan Manggala, Kota Makassar.
Belasan murid kelas 3 dan 4 sekolah tersebut mengunjungi Galeri De La Macca, Jalan Borong Raya Nomor 75A, Makassar, untuk menyaksikan Pameran Tunggal Seni Rupa bertajuk “Pasar, Transaksi Rupa dalam Gua Batu” karya perupa Ishakim, Kamis, 1 Oktober 2026.
Kunjungan itu menjadi pengalaman berbeda bagi para murid. Untuk pertama kalinya, mereka melihat secara langsung karya seni rupa yang dipajang dalam sebuah galeri.
Di hadapan 19 karya lukis bercorak ekspresif spontan tersebut, anak-anak tidak sekadar melihat. Mereka mencoba mengamati, mencatat, kemudian mengungkapkan apa yang mereka tangkap dari setiap lukisan.
Beragam imajinasi pun muncul. Ada murid yang melihat sosok putri duyung, suasana pasar, tukang parkir, payung, orang membawa ikan, pantai, hingga perahu. Beberapa lainnya menangkap figur orang sedang menari dan orang-orang yang seolah tengah berbincang.
Cara anak-anak membaca karya seni itu menunjukkan bahwa sebuah lukisan dapat menghadirkan tafsir yang berbeda bagi setiap orang.
Pameran karya Ishakim tersebut mengangkat Spirit Leang-Leang. Sebanyak 19 lukisan dibuat menggunakan akrilik dan pastel krayon di atas karton, dengan ukuran rata-rata 40 x 30 sentimeter.
Delapan karya di antaranya menggunakan bubuk limbah marmer yang diambil dari kawasan Leang-Leang, Maros. Dalam bahasa Makassar, Leang-Leang berarti gua-gua.
Kawasan Leang-Leang sendiri dikenal sebagai bagian dari kawasan karst Maros-Pangkep yang berada dalam Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung dan Geopark Maros-Pangkep UNESCO. Kawasan ini juga memiliki jejak seni cadas prasejarah berupa lukisan figuratif dan cap tangan yang berusia puluhan ribu tahun.
Bagi murid SD Negeri Borong, pengalaman melihat karya tersebut kemudian berkembang menjadi aktivitas kreatif. Beberapa di antara mereka memilih duduk di lantai maupun menggunakan meja yang tersedia untuk menggambar.
Dengan pulpen dan buku bergaris yang dibawa dari sekolah, mereka mencoba membuat gambar berdasarkan karya yang menarik perhatian masing-masing.
Azkayra, Aulia, Adena Deva, Saqueena, Alifa, dan Aqila, yang merupakan murid kelas 4, tampak asyik menuangkan gagasannya ke dalam gambar. Murid kelas 3, Qeena dan Aurel, juga melakukan hal serupa dengan memilih objek yang mereka sukai.
Aktivitas tersebut membuat suasana kunjungan menjadi lebih interaktif. Anak-anak tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut merespons karya seni melalui gambar yang mereka buat sendiri.
Owner penerbit De La Macca, Goenawan Monoharto, menyambut hangat kunjungan tersebut. Ia memberikan ruang kepada para murid untuk mengeksplorasi pameran dan memahami karya berdasarkan sudut pandang mereka sendiri.
Selama kunjungan, para murid didampingi Elyda Alawiah, Kepala Perpustakaan Gerbang Ilmu SD Negeri Borong, serta Rusdin Tompo, penggiat Sekolah Ramah Anak.
Kepala UPT SPF SD Negeri Borong, Andi Etty Cahyani, S.Pd., M.Pd., mengatakan, kunjungan ke galeri merupakan bagian dari upaya sekolah memperluas pengalaman belajar murid melalui ruang-ruang kreatif di luar kelas.
Menurutnya, melihat karya seni secara langsung dapat membuka ruang imajinasi sekaligus mendorong anak-anak untuk berani berkarya.
“Harapannya, setelah berkunjung, anak-anak mendapatkan inspirasi, lebih percaya diri, dan terdorong menciptakan sesuatu sesuai potensi dan bakatnya,” ujarnya.
Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari program inovasi Gembira di SD Negeri Borong, yakni Gerakan Membaca, Bercerita, Menulis, Kriya, Kreasi.
Melalui kegiatan seperti ini, pembelajaran tidak berhenti pada membaca dan menulis. Anak-anak juga diajak mengamati lingkungan, mengenali karya seni, mengembangkan imajinasi, lalu menuangkannya dalam bentuk kreasi.
Pameran “Pasar, Transaksi Rupa dalam Gua Batu” karya Ishakim sendiri didukung Dana Indonesia Raya Kementerian Kebudayaan RI dan berlangsung pada 1–4 Oktober 2026.
Ishakim merupakan perupa yang pernah menimba ilmu di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Selain berkarya di bidang seni rupa, ia dikenal sebagai aktor teater dan film, serta aktif dalam berbagai forum seni budaya. Ia juga menulis puisi dan cerpen.
Bagi murid-murid SD Negeri Borong, kunjungan ke Galeri De La Macca akhirnya bukan sekadar melihat pameran. Dari sana, mereka belajar bahwa sebuah karya seni dapat dilihat dari banyak sudut pandang—dan setiap anak memiliki kebebasan untuk menemukan makna serta menciptakan karya versinya sendiri.**
